Angkot Juga Harus Berempati

Bagi saya, naik angkot itu mengasyikkan. Memang, kita harus bisa mengatur waktu antara waktu rutin (bekerja) dan waktu santai (rekreasi). Namun, agar tidak stress, saya pun sudah merencanakan perjalanannya sebaik mungkin. Tujuannya agar tepat antara “perilaku” angkot dan “perilaku” kita sebagai penumpang angkot.

Dalam kabar perangkotan, saya sempat mendengar kabar bahwa angkot Sadangserang-Stasiun Hall “marah” karena Terminal Sadangserang-nya dipenuhi oleh pedagang pasar. Mereka pun ingin agar Terminal Sadangserang dijadikan tempat mangkalnya kembali.

Namun demikian, menurut pandangan saya, mereka pun tidak boleh egois bahwa tempat mangkal angkot Sadangserang-Stasiun Hall di Terminal Stasiun Hall dan bukannya di Jalan Oto Iskandar Di Nata atau Jalan Stasiun Timur. Mereka harus berempati dengan para penumpangnya.

Saya pernah mendengar pertanyaan ibu-ibu kepada petugas di Terminal Stasiun Hall. “Mana angkot Sadangserang-Stasiun Hall?” tanya salah seorang ibu. “Itu di sana. Naik saja angkot ini dulu Rp 1.000,-“ ujar salah seorang petugas atau orang di sana. Nah, kalau sudah begini ada “ekonomi biaya tinggi”, bukan? Meskipun hanya Rp 1.000,-

Selain masalah itu, ada juga masalah trayek. Mengapa angkot Ciroyom-Antapani misalnya sering kali tidak sampai di Terminal Ciroyom? Kalau Terminal akhirnya sampai Jalan Pajajaran (dekat patung Tugu Husein Sastranegara), maukah angkot itu ditulis Antapani-Pajajaran atau Antapani-Husein?

Masih ada masalah-masalah lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s